Pemecatan Shin Tae-yong memang sudah berlangsung selama sebulan, dan ia diperkirakan menerima kompensasi besar setelah resmi dipecat oleh PSSI dari jabatannya sebagai pelatih Timnas Indonesia.
Pemecatan ini diumumkan oleh Ketua Umum PSSI, Erick Thohir, dalam konferensi pers di Jakarta.
Berdasarkan aturan kontrak, pelatih yang diberhentikan sebelum masa kontraknya berakhir berhak menerima sisa gaji sesuai durasi kontraknya.
Shin Tae-yong memiliki kontrak hingga 31 Juli 2027, yang berarti PSSI harus membayarkan sisa gaji selama 30 bulan.
Selama periode pertama (2019-2024), ia menerima gaji Rp14,2 miliar per tahun, sementara kontrak terbaru meningkatkan pendapatannya menjadi Rp23,6 miliar per tahun.
Dengan hitungan ini, Shin Tae-yong diperkirakan akan menerima pesangon sebesar Rp59 miliar.
Namun, pengamat sepak bola Haris Pardede mengungkapkan kabar bahwa pesangon Shin Tae-yong dapat mencapai ratusan miliar rupiah.
Hal ini dikarenakan kontraknya baru diperbarui pertengahan 2024, dan PSSI harus memenuhi ketentuan pembayaran penuh.
Bahkan berselang satu bulan lebih, tepatnya hari ini, Erick Thohir, menegaskan bahwa pihaknya sudah membayar semua kewajiban terkait pemutusan kontrak Shin Tae-yong dari posisi pelatih Timnas Indonesia.
Erick menjelaskan bahwa PSSI berusaha untuk bersikap profesional.
”Tanya Coach Shin, kalau dari kami sudah sesuai kontrak. Kami sudah sesuaikan bulan Januari, bonus, semua. Bahkan, asisten coach yang kontraknya [sampai] bulan Desember, kalau tidak salah nanti saya cek lagi, saya rasa kami kasih sampai Januari,” kata Erick di Jakarta, Sabtu (22/2/2025).
”Saya rasa PSSI punya harga diri. PSSI juga profesional, tidak sempurna, tapi tidak mungkin kalau peningkatan seperti ini, FIFA, AFC, AFF, tidak percaya sama kami. Jadi, kami menjalankan sebaik-baiknya, saya mengucapkan terima kasih kepada Coach Shin selalu saya bilang. Ini bagian dari profesionalisme, dan kami sekarang fokus kepada Coach Patrick,” lanjutnya.
Erick Thohir juga menjelaskan bahwa saat ini PSSI tengah berfokus untuk membuat Timnas Indonesia lolos ke Piala Dunia 2026. Ia ingin memenuhi keinginan dan ekspektasi suporter.
”Apakah salah kalau kami di PSSI yang mendengar suara suporter, masyarakat Indonesia, ingin kita main di Piala Dunia? Saya rasa tidak salah. Kita pernah menjadi tuan rumah Piala Dunia U-17, tapi untuk [lolos lewat jalur] kualifikasi, sebagai tim, kan ingin, boleh dong,” ucap Erick.
”Dan, saya merasa program kami, sepertinya program dua tahun ini, semua berjalan. Jadi, saya merasa belum pernah PSSI memiliki program yang seagresif ini,” jelasnya menutup keterangan.