score.co.id – Bagi para penggemar Arsenal, momen kepergian Thierry Henry adalah suatu kenangan yang sulit dilupakan. Setelah delapan tahun gemilang bersama klub, Henry meninggalkan Arsenal dengan hati yang berat.
Sebagai pencetak gol terbanyak sepanjang masa Arsenal dan kapten yang karismatik, kepergian Henry meninggalkan kesan mendalam bagi seluruh penggemar klub. Langkahnya mengikuti jejak Patrick Vieira dan Robert Pires dengan hengkang ke luar negeri mengejutkan banyak pihak.
Pada usia 29 tahun, Henry dihadapkan pada kesempatan untuk bergabung dengan Barcelona yang dipimpin oleh Pep Guardiola yang sedang bersinar. Tawaran menggiurkan dari klub Catalan tersebut membuatnya akhirnya memutuskan untuk meninggalkan London.
Arsenal menerima penawaran sebesar 24 juta euro (sekitar Rp420 miliar) atas transfer Henry, dan dana tersebut sangat membantu dalam membayar utang atas pembangunan megah Emirates Stadium. Kepergian sang legenda tidak hanya meninggalkan kekosongan di lapangan, tetapi juga memberikan kontribusi positif bagi keuangan klub.
Faktor Kecepatan Jadi Pertimbangan
Keputusan Arsenal untuk melepas Thierry Henry pada awalnya dianggap sebagai penghormatan bagi sang legenda. Namun, mantan direktur klub, Keith Edelman, mengungkapkan alasan lain di balik transfer tersebut yang cukup mengejutkan.
Edelman menjelaskan bahwa alasan utama kepergian Henry adalah karena mulai terlihat penurunan dalam kecepatannya. Menurutnya, gaya permainan Henry sangat bergantung pada kecepatan. Jika kecepatannya menurun, hal itu bisa berdampak besar bagi performa tim secara keseluruhan.
“Dalam permainannya, kecepatan memegang peranan yang sangat vital,” ungkap Edelman. “Jika kecepatan itu hilang, maka hal itu bisa menjadi akhir dari dominasi dalam lapangan. Oleh karena itu, kami memutuskan untuk mendapatkan keuntungan finansial darinya meskipun ia sedang mengalami penurunan performa.”
Edelman menegaskan bahwa keputusan tersebut bukanlah tanpa pertimbangan, dan Arsenal harus memikirkan keseluruhan tim. Meskipun Henry adalah seorang legenda, namun dalam dunia sepakbola, perubahan adalah hal yang tak terhindarkan, terutama ketika faktor kecepatan menjadi krusial dalam strategi permainan.
Sempat Kembali ke Arsenal
Henry pada awalnya mengalami kesulitan dalam menyesuaikan diri dengan lingkungan di Spanyol, namun dengan tekad dan kerja keras, ia akhirnya sukses meraih prestasi gemilang. Bersama dengan Lionel Messi dan Samuel Eto’o, mereka membentuk trisula maut yang mengantarkan Barcelona meraih treble.
Setelah tiga tahun berlalu, Henry kembali ke Arsenal dengan status pinjaman. Namun, ia menemukan bahwa klub telah mengalami perubahan yang signifikan sejak masa keemasannya. Meskipun demikian, Edelman menegaskan bahwa membangun sebuah tim adalah proses yang tak pernah berhenti. “Mengganti pemain-pemain kelas dunia bukanlah hal yang mudah. Arsenal beruntung memiliki sosok-sosok seperti Henry, Vieira, Pires, Sol Campbell, dan Gilberto Silva,” katanya.
Penting untuk diingat bahwa fondasi sebuah tim yang kuat tak hanya dibangun dalam satu malam. Dibutuhkan kerja keras, dedikasi, dan waktu untuk menciptakan kesuksesan jangka panjang. Arsenal memiliki sejarah gemilang dengan para legenda sepakbola seperti Henry, dan itu adalah aset yang tak ternilai harganya dalam perjalanan mereka menuju pencapaian yang lebih besar.